Minggu, 15 Agustus 2010

Mantan Pendeta Masuk Islam

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Hidayah bisa menghampiri siapa saja. Bila Allah SWT telah berkehendak maka seorang pendeta pun bisa berpaling menjadi Muslim yang taat. Mungkin itulah kisah yang dihadapi Kenneth L Jenkins dalam hidupnya.

Dilahirkan dan dibesarkan dilingkungan yang tergolong agamis, Jenkis adalah seorang pemeluk Kristen Pantekosta di Amerika Serikat. Dia lebih banyak diasuh oleh kakeknya karena ibunya sebagai orang tua tunggal. Pantas bila dia terbilang jamaat yang taat mengingat kakeknya sudah mengajarinya tentang kehidupan gereja sejak kecil. Dan tak heran pula bila di usia enam tahun, dia sudah mengetahui
banyak ajaran dalam Injil.

Setiap hari Minggu, Jenkins menuturkan, seluruh anggota keluarganya selalu pergi ke gereja. Saat seperti itu, ungkapnya, menjadi momen bagi dirinya beserta kedua saudaranya untuk mengenakan pakaian terbaik mereka. Setelah lulus SMA dan masuk universitas, Jenkins memutuskan untuk lebih aktif dalam kegiatan keagamaan. Ia datang ke gereja setiap saat, mempelajari kitab Injil setiap hari, dan menghadiri kuliah yang diberikan oleh para pemuka agama Kristen.

Hal ini membuatnya amat menonjol di kalangan para jemaat. Pada usia 20 tahun, gereja memintanya untuk bergabung. Sejak itulah Jenkins mulai memberikan khutbah kepada para jemaat yang lain. Setelah menamatkan pendidikannya di jenjang universitas, Jenkins memutuskan untuk bekerja secara penuh di gereja sebagai pendakwah. Sasaran utamanya komunitas warga kulit hitam Amerika.

Ketika melakukan interaksi dengan komunitas inilah ia menemukan kenyataan bahwa banyak di antara para pemuka gereja yang menggunakan Injil untuk kepentingan politis, yakni untuk mendukung posisi mereka pada isu-isu tertentu. Kemudian, Jenkins memutuskan untuk pindah ke Texas. Di kota ini ia sempat bergabung dengan dua gereja Pantekosta yang berbeda. Namun, lagi-lagi ia mendapatkan kenyataan bahwa para pendeta di kedua gereja ini melakukan tindakan-tindakan yang menyalahi norma aturan yang telah ditetapkan oleh organisasi gereja.

Ia mendapatkan fakta di lapangan bahwa sejumlah pemimpin gereja melakukan perbuatan menyimpang tanpa tersentuh oleh hukum. Mendapati kenyataan seperti ini, dalam diri Jenkins mulai timbul berbagai pertanyaan atas keyakinan yang ia anut. ''Saat itu saya mulai berpikir untuk mencari sebuah perubahan,'' ujarnya.

Perubahan yang diinginkan Jenkins datang ketika ia mendapatkan sebuah tawaran pekerjaan di Arab Saudi. Setibanya di Arab Saudi, ia menemukan perbedaan yang mencolok dalam gaya hidup orang-orang Muslim di negara Timur Tengah tersebut. Dari sana kemudian timbul keinginan dalam diri pendeta ini untuk mempelajari lebih jauh agama yang dianut oleh masyarakat Muslim di Arab Saudi.

Perlahan, dia mulai mengagumi kehidupan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul yang diutus untuk membawa Islam. Dan dia pun ingin tahu lebih banyak lagi mengenainya. Untuk menjawab rasa ingin tahunya itu, Jenkins pun memutuskan untuk meminjam buku-buku mengenai Islam melalui salah seorang kerabatnya yang ia ketahui sangat dekat dengan komunitas Muslim. Buku-buku tersebut ia baca satu per satu. Dan, di antara buku-buku yang ia pinjam tersebut terdapat terjemahan Alquran. Ia menamatkan bacaan terjemahan Alquran ini dalam waktu empat bulan.

Berbagai pertanyaan seputar Islam yang ia lontarkan kepada teman-teman Muslimnya mendapatkan jawaban yang sangat memuaskan. Jika teman Muslimnya ini tidak bisa memberikan jawaban yang memadai, mereka akan menanyakan hal tersebut kepada seseorang yang lebih paham. Dan pada hari berikutnya, baru jawaban dari orang tersebut disampaikan kepadanya.

Rasa persaudaraan dan sikap rendah hati yang ditunjukkan oleh para teman Muslimnya ini, diakui Jenkins, membuatnya tertarik untuk mempelajari Islam lebih dalam. Rasa kekaguman Jenkins juga ditujukan kepada kaum Muslimah yang ia jumpai selama bermukim di Arab Saudi. Agama Islam yang baru dikenal olehnya, menurut Jenkins, juga tidak mengenal adanya perbedaan status sosial. Semua hal yang ia saksikan selama tinggal di Arab Saudi menurutnya merupakan sesuatu yang indah.

Kendati demikian, diakui Jenkins, saat itu dalam dirinya masih terdapat keragu-raguan antara Islam dengan keyakinan yang sudah dianutnya sejak masa kanak-kanak. Namun, semua keraguan tersebut terjawab manakala salah seorang teman Muslimnya memberikan dia sebuah kaset video yang berisi perdebatan antara Syekh Ahmed Deedat dan Pendeta Jimmy Swaggart. Setelah menonton perdebatan tersebut, Pendeta Gereja Pantekosta ini kemudian memutuskan untuk menjadi seorang Muslim. Kemudian oleh salah seorang kawan, Jenkins diajak menemui seorang ulama setempat, Syekh Abdullah bin Abdulaziz bin Baz. Di hadapan sang ulama, Jenkins pun secara resmi menerima Islam sebagai keyakinan barunya.

Tak butuh waktu lama, kabar mengenai masuk Islamnya Jenkins, telah sampai ke telinga para rekan-rekannya sesama pendeta dan aktivis gereja. Karena itu, setibanya di Amerika Serikat, berbagai hujatan dan kritikan bertubi-tubi datang kepadanya. Tak hanya itu, Jenkins juga dicap dengan berbagai label, mulai dari orang murtad hingga tercela. Ia juga dikucilkan dari lingkungan tempat tinggalnya.

Namun, semua itu tidak membuatnya gentar dan berpaling dari Islam. ''Islam membuat saya seperti terlahir kembali, dari kegelapan menjadi terang. Saya tidak merasa terusik dengan semua itu, karena saya merasa sangat bahagia bahwa Allah Mahakuasa yang telah memberi kan saya petunjuk,'' tuturnya.

Ingin Jadi Pendakwah

Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Al-Madinah, Jenkins mengungkapkan keinginannya untuk menjadi seorang pendakwah. Dia tak akan menghentikan aktivitasnya sebagai seorang juru dakwah, sebagaimana yang pernah ia lakukan saat masih memeluk Kristen Pantekosta. ''Saat ini, tujuan saya adalah belajar bahasa Arab dan terus belajar untuk mendapatkan pengetahuan lebih dalam tentang Islam, selain itu saya sekarang bergerak di bidang dakwah, terutama kepada non-Muslim,'' ujarnya.

Mantan pendeta ini juga berharap bisa membuat sebuah karya tulis mengenai perbandingan agama. Karena, menurutnya, adalah tugas umat Islam di seluruh dunia untuk menyebarkan ajaran Islam. ''Sebagai orang yang telah menghabiskan waktu yang lama sebagai penginjil, saya merasa memiliki kewajiban untuk mendidik masyarakat tentang kesalahan dan kontradiksi dari kisah-kisah di dalam Kitab Injil yang selama ini diyakini oleh jutaan orang,'' ungkapnya.

Sabtu, 14 Agustus 2010

Muallaf Kisah Leonardo Villar mengenal Islam

Sebelum memeluk agama Islam, kebiasaannya saat saya mengunjungi sebuah kota atau kawasan, tempat pertama yang saya masuk atau cari ialah tempat peribadatan, sebuah kuil atau gereja, atau apa saja. Dengan izin Allah, saya telah memasuki sebuah masjid saat umat Islam menunaikan shalat Magrib mereka. Saya menanti sehingga mereka menyelesaikan shalat mereka. Kemudian saya menemui imam masjid tersebut. Di sinilah bermula perjalanan saya menuju Islam. Saya mulai berbincang dengan imam masjid ini.

Sebelum saya memeluk Islam, nama saya ialah Leonardo Villar. Saya dilahirkan dalam sebuah keluarga Kristen pada tahun 1935 bulan Desember tanggal 4. Saya dibesarkan oleh kakek dan nenek saya. Mereka mengajar saya kepercayaan mereka yaitu doktrin Trinitas, sebuah kepercayaan bahwa Nabi Isa as adalah anak Tuhan dan dia turut menerima sembahan selain dari Tuhan itu sendiri. Mereka mengantar saya ke sekolah Inggris, itupun karena permintaan saya. Namun demikian, saya tidak menghabiskan pengajian saya di sekolah ini. Ketika itu usia saya baru lima tahun, pada mulanya Kepala Sekolah tidak menerima saya karena usia saya yang terlalu muda. Kemudiannya dia menerima karena melihatkan kemampuan saya dalam menyaingi teman-teman lain yang lebih tua.

Pada satu ketika saya tidur siang, pintu rumah terbuka. Ayam-ayam dan anak-anaknya masuk kedalam rumah. Saya terbangun. Saya mengambil handuk dan mengusir ayam-ayam tersebut. Ayam-ayampun beterbangan lari tidak karuan, sehingga berhala/patung yang sering kami tatapi saat menyembah jatuh dan hancur. Saya dapati bahwa berhala itu hanyalah kayu semata dan bukannya Tuhan. Saya katakan pada mereka, "Kalian hanyalah kayu, kalian bukan Tuhan seperti yang diklaim oleh ibu-bapakku. Kalian tidak bisa membantu diri kalian, bagaimana kalian bisa membantu orang lain?"

Saya ingin memecahkannya, tetapi karena ketika itu saya masih kecil, saya tidak berani melakukannya, sudah pasti kakek akan memukul saya. Saya meletakkan berhala itu ditempatnya semula. Saya mula berfikir, dan yakin bahwa memang ada Tuhan yang sebenarnya, yang telah menciptakan alam ini.

Keesokkan paginya, saya menemui bapak saya sedang duduk, saya duduk disebelahnya dan bertanya, adakah berhala-berhala itu Tuhan? Dia berkata, tidak, ia hanyalah simbol untuk kita sembah seolah-olah kita sedang berhadapan dengan Tuhan. Saya mendiamkan diri, saya tidak dapat mengucapkan apa yang terpendam dalam hati saya.

Saya meninggalkan sekolah dan berhenti menghadiri upacara-upacara keagamaan. Saya pergi ke sebuah rumah milik seorang tua. Saya meminta orang tua ini bercerita pada saya mengenai kisah para Nabi seperti Nabi Daud, Nabi Sulaiman, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Nuh dan Nabi Adam. Saya juga bertanya kepadanya tentang agama.

Ketika bapa saya mengetahui saya telah berhenti belajar, dia amat marah dan mengancam akan membunuh saya. Kemarahannya bertambah saat dia tahu yang saya juga telah berhenti dari pergi ke gereja pada hari minggu. Ini berlalu hingga saya berusia 17 tahun.

Pada tahun 1963, saya tiba di kota Marawi di Mindanao, propinsi yang terletak di bagian Selatan Filipina yang memiliki penduduk muslim yang ramai. Sudah menjadi kebiasaan saya, setiap kali saya memasuki sebuah kota baru, sudah pasti saya akan masuk ke bangunan yang menjadi tempat peribadatan kawasan tersebut. Di sini saya telah pergi ke sebuah masjid.

Umat Islam saat itu sedang menunaikan shalat Maghrib. Saya menanti sehingga mereka selesai shalat. Kemudian saya menemui imam masjid tersebut dan orang-orang di situ mengelilingi kami. Saya berkata kepada Imam, apa yang telah anda lakukan tadi?

Dia menjawab, "Kami menunaikan shalat." Saya bertanya, "Apakah ini agama anda? Dia berkata, "Iya." Saya bertanya lagi, "Apakah agama ini? Dia menjawab, "Islam." Saya bertanya kembali, "Siapa Tuhan anda? Dia berkata, "Allah." Saya bertanya, "Siapakah nabi anda? Dia berkata, "Muhammad saw." Saya diam, karena inilah kali pertama saya mendengarnya, dan saya mula berfikir.

Saya bertanya lagi, "Apa yang anda fikir mengenai Nabi Isa? Dia berkata, "Ia adalah Isa anak Maryam, semoga Tuhan memberkati keduanya, dan ia adalah Nabi Allah." Saya bertanya," Apakah agamanya? Saya bertanya kembali, "Apakah agamanya? Ia berkata, "Islam. Karena semua nabi mengikuti agama Islam. Kemudian baru saya sadar bahwa kami tidak bisa berbicara lama, dan saya adalah orang asing di kota ini. Saya berkata kepadanya, "Adakah anda punya buku yang bisa saya baca?

Dia memberi tiga buku dalam bahasa Inggris kepada saya; sebuah buku berkaitan agama Islam, terjemahan al-Quran dan ketiga sebuah artikel berkaitan akidah. Saya meninggalkan masjid tersebut dan pergi ke tempat tujuan, saya membaca buku pertama secara terperinci. Saya menemui apa yang saya cari dalam buku tersebut.

Akhirnya, saya sudah pasti bahwa saya telah menemui agama Nabi Isa as yang saya cari selama 20 tahun. Buku itu memberitahu cara berwudu' dan segala hal-hal yang mendasar berkaitan shalat. Saya mencari bagian yang menjelaskannya dan mula menghafal serta melakukannya. Pada pagi Jumat, saya pergi ke rumah Imam dan bertanya kepadanya, "Adakah seorang non-muslim diizinkan untuk memeluk agama Islam jika dia mengingininya?

Dia berkata, "Islam bukan hanya agama untuk kami umat Islam; ia adalah agama miliki semua manusia dan anda haruslah menjadi seorang muslim." Iia mengajar saya untuk mengambil wudu' dan mengucap dua kalimah syahadah, serta menunaikan shalat. Setelah saya selesai menunaikan shalat, saya bertanya kepadanya, "Adakah saya muslim sekarang? Ia berkata, "Iya."

Saya mula mempelajari Islam di sebuah sekolah agama Islam di kota ini lebih kurang selama 4 tahun. Kemudian saya melanjutkan pelajaran ke Mekah. Pada akhir tahun 1967, saya mendapat kartu izin pelajar. Pada tahun 1978, saya dibenarkan untuk menyambung pelajaran di Universitas al-Madinah sehingga tahun 1979 dimana saya menamatkan pelajaran saya.

Kemudian saya diantar ke Sabah, Malaysia. Sehingga saat ini saya bekerja sebagai seorang muballig.[IRIB/AN]

Fitnah Kubur

Fitnah Dalam Kubur Menyerupai Fitnah Dajjal

Senin, 26/07/2010 21:13 WIB | email | print | share

Tidak banyak orang yang sadar bahwa kelak di dalam kubur setiap jenazah bakal mengalami fitnah (ujian) berat. Sedemikian beratnya fitnah itu sehingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menggambarkannya sebagai fitnah yang menyerupai fitnah Dajjal.

قَدْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّكُمْ تُفْتَنُونَ فِي الْقُبُورِ قَرِيبًا مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sungguh telah diwahyukan kepadaku bahwa kalian akan menghadapi ujian di dalam kubur kalian yang menyerupai ujian Ad-Dajjal." (NASAI - 2035)

Sebagaimana kita tahu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah memperingatkan kita akan dahsyatnya fitnah Ad-Dajjal. Banyak hadits yang menyebutkannya.

مَا بَيْنَ آدَمَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ أَمْرٌ أَكْبَرُ مِنْ الدَّجَّال

Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Tidak ada perkara sejak diciptakannya Adam sampai Hari Kiamat yang lebih besar daripada Dajjal." (AHMAD - 15676)

مَا بُعِثَ نَبِيٌّ إِلَّا أَنْذَرَ أُمَّتَهُ الْأَعْوَرَ الْكَذَّابَ أَلَا إِنَّهُ أَعْوَرُ

وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ وَإِنَّ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مَكْتُوبٌ كَافِرٌ

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah seorang Nabi pun diutus selain telah memperingatkan kaumnya terhadap yang buta sebelah dan pendusta, ketahuilah bahwasanya Dajjal itu buta sebelah, sedang rabb kalian tidak buta sebelah, tertulis diantara kedua matanya KAFIR." (BUKHARI - 6598)

Apakah ujian yang akan dialami setiap orang di dalam kuburnya sehingga Nabi shallallahu'alaihiwasallam menyatakan bahwa beratnya fitnah tersebut menyerupai beratnya fitnah Dajjal? Dalam sebuah hadits panjang pernah suatu ketika Nabi shallallahu'alaihiwasallam menjelaskan di hadapan para sahabat apa yang dialami jenazah mukmin di dalam kuburnya.

فَتُعَادُ رُوحُهُ فِي جَسَدِهِ فَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ

مَنْ رَبُّكَ فَيَقُولُ رَبِّيَ اللَّهُ فَيَقُولَانِ لَهُ مَا دِينُكَ فَيَقُولُ

دِينِيَ الْإِسْلَامُفَيَقُولَانِ لَهُ مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ

فَيَقُولُ هُوَ رَسُولُ اللَّهصَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فَيَقُولَانِ لَهُ وَمَا عِلْمُكَ فَيَقُولُ قَرَأْتُ

كِتَابَ اللَّهِ فَآمَنْتُ بِهِ وَصَدَّقْتُ فَيُنَادِي مُنَادٍ فِي السَّمَاءِ

أَنْ صَدَقَ عَبْدِيفَأَفْرِشُوهُ مِنْ الْجَنَّةِ وَأَلْبِسُوهُ مِنْ الْجَنَّةِ

وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِقَالَ فَيَأْتِيهِ مِنْ رَوْحِهَا وَطِيبِهَا

وَيُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ مَدَّ بَصَرِهِ قَالَ

وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ حَسَنُ الثِّيَابِ طَيِّبُ الرِّيحِ فَيَقُولُ

أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ فَيَقُولُ لَهُ

مَنْ أَنْتَ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالْخَيْرِ فَيَقُولُ أَنَا عَمَلُكَ

الصَّالِحُفَيَقُولُ رَبِّ أَقِمْ السَّاعَةَ حَتَّى أَرْجِعَ إِلَى أَهْلِي وَمَالِي

Nabi Muhammad shallallahu'alaihiwasallam bersabda: “Lantas roh (jenazah mukmin tersebut) dikembalikan ke jasadnya, kemudian dua malaikat mendatanginya dan mendudukkannya dan bertanya 'Siapa Rabbmu'. Ia menjawab 'Rabbku Allah'. Tanya keduanya "Apa din-mu (agamamu)? "Agamuku Islam." Jawabnya. Keduanya bertanya "Bagaimana komentarmu tentang laki-laki yang diutus kepada kamu ini? Si mayit menjawab "Oh, dia Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam. Keduanya bertanya "darimana kamu tahu? Ia menjawab "Aku membaca kitabullah sehingga aku mengimaninya dan membenarkannya.” Lantas ada Penyeru di langit memanggil-manggil "HambaKu benar, hamparkanlah surga baginya dan berilah pakaian surga, dan bukakanlah pintu baginya menuju surga”, Kata Nabi, maka hamba itu memperoleh bau harum dan wangi surga dan kuburannya diperluas sejauh mata memandang. Lantas ia didatangi oleh laki-laki berwajah tampan, pakaiannya indah, wanginya semerbak, dan malaikat itu berucap "Bergembiralah dengan kabar yang menggembirakanmu. Inilah hari yang dijanjikan unukmu.” Si mayit bertanya 'Lho, siapa kamu ini sebenarnya, rupanya wajahmu adalah wajah yang mendatangkan kebaikan! Si laki-laki tampan menjawab “Ow, aku adalah amal solehmu”. Lantas hamba tadi meminta: "Ya Rabbku, tolong jadikan kiamat sekarang juga sehingga aku bisa kembali menemui keluargaku dan hartaku”. (AHMAD - 17803)

Kemudian sesudah itu Nabi shallallahu'alaihiwasallam menjelaskan secara kontras apa yang dialami jenazah kafir di dalam kuburnya.

فَتُعَادُ رُوحُهُ فِي جَسَدِهِ وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ

مَنْ رَبُّكَفَيَقُولُ هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي فَيَقُولَانِ لَهُ مَا دِينُكَ

فَيَقُولُ هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِيفَيَقُولَانِ لَهُ مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي

بُعِثَ فِيكُمْ فَيَقُولُ هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي

فَيُنَادِي مُنَادٍ مِنْ السَّمَاءِ أَنْ كَذَبَ فَافْرِشُوا لَهُ مِنْ النَّارِ

وَافْتَحُوا لَهُبَابًا إِلَى النَّارِ فَيَأْتِيهِ مِنْ حَرِّهَا وَسَمُومِهَا

وَيُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّىتَخْتَلِفَ فِيهِ أَضْلَاعُهُ وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ

قَبِيحُ الْوَجْهِ قَبِيحُ الثِّيَابِ مُنْتِنُ الرِّيحِفَيَقُولُ أَبْشِرْ بِالَّذِي

يَسُوءُكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ فَيَقُولُ

مَنْ أَنْتَ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالشَّرِّ فَيَقُولُ

أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ فَيَقُولُ رَبِّ لَا تُقِمْ السَّاعَةَ

Maka roh (jenazah kafir tersebut) dikembalikan dalam jasadnya. Kedua malaikat lantas mendatanginya dan mendudukkannya dan menginterogasi "Siapa Rabbmu? ia menajwab "Ah... ah... ah, saya tidak tahu...!” Kedua malaikat itu bertanya lagi "Apa din-mu (agamamu)? Ia menjawab "Ah... ah... ah, saya tidak tahu...!” kedua malaikat bertanya lagi "bagaimana tanggapanmu mengenai laki-laki ini yang diutus untuk kalian? Si mayit menjawab; "Ah... ah... ah, saya tidak tahu...!” Lantas ada Penyeru langit memanggil-manggil "ia betul-betul telah dusta! hamparkan baginya neraka!” Maka malaikat membuka pintu neraka baginya dan ia mendatanginya dengan segala panasnya dan letupannya. Sedang kuburannya menjepitnya hingga tulang-tulangnya remuk. Kemudian ia didatangi oleh laki-laki yang wajahnya menyeramkan, pakainnya lusuh, baunya busuk dan berujar; "Bergembiralah engkau dengan segala hal yang menyusahkanmu. Inilah harimu yang dijanjikan bagimu.” Lantas si mayyit bertanya "Siapa kamu dengan wajahmu yang sedemikian menyeramkan dan membawa keburukan ini?” Lantas si laki-laki menjawab: "aku adalah amal jahatmu”, Maka si mayyit berdoa "Ya Rabb ... Jangan kiamat kau jadikan sekarang!” (AHMAD - 17803)

اللَّهُمَّ إِنِّي أُنْزِلُ بِكَ حَاجَتِي وَإِنْ قَصُرَ رَأْيِي وَضَعُفَ عَمَلِي

افْتَقَرْتُ إِلَى رَحْمَتِكَ فَأَسْأَلُكَ يَا قَاضِيَ الْأُمُورِ

وَيَا شَافِيَ الصُّدُورِكَمَا تُجِيرُ بَيْنَ الْبُحُورِ

أَنْ تُجِيرَنِي مِنْ عَذَابِ السَّعِيرِ

وَمِنْ دَعْوَةِ الثُّبُورِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْقُبُورِ

Ya Allah kepadaMu aku sampaikan hajatku, walaupun terbatas penglihatanku, serta lemah amalanku. Aku butuh kepada rahmatMu, maka aku memohon kepadaMu wahai Dzat Yang Maha Mampu menyelesaikan segala perkara, wahai Dzat yang mengobati hatiku, sebagaimana Engkau melindungi diantara lautan aku mohon agar Engkau lindungi aku dari adzab Neraka Sa'ir, serta seruan kebinasaan, serta fitnah kubur.